Ketua PCNU Bawean: Memahami Sejarah Bangsa Kunci Pahami Konsep Paham Kebangsaan NU


Bulan Rajab bagi nahdyin merupakan bulan yang sangat bersejarah, bukan hanya momentum Isra'-Mi'raj Nabi, tapi di Bulan ini organisasi Nahdlatul Ulama secara resmi dan legal didirikan di Surabaya tahun 1441 H. setelah seminggu yang lalu PCNU Bawean menggelar Harlah dengan menghadirkan Habib Umar Al-muthohar dari Semarang. Tadi Malam giliran MWCNU Daun melaksanakan Harlah NU, bertempat di Masjid Al-Muslimun, Alasmakmur, Daun. Harlah kali ini dihadiri oleh Pengurus Cabang, MWC, PC Ansor, PC Fatayat, IPNU/IPPNU dan seluruh Pengurus Ranting se-MWCNU Daun.

Dalam sambutannya Ketua PCNU Bawean K. Moh. Fauzi, M.Pd.I. menjelaskan bahwa usia ke-97 bagi seseorang mungkin usia yang sudah tua, tapi bagi sebuah organisasi usia ini merupakan usia menuju kematangan, khususnya dalam rangka menyongsong 1 abad usia NU. Oleh karena NU saat ini PBNU berupaya sekuat tenaga memantapkan landasan garis perjuangan NU, khususnya dalam konteks kebangsaan dan nasionalisme. Ini wajar karena menurut beliau, masalah inilah yang sering  disalahpahami oleh warga nahdlhiyyin.

Menurut beliau untuk memahami  kerangka pemikiran Nahdlatul Ulama dalam konteks kebangsaan dan nasionalisme, maka harus mempelajari sejarah Bangsa Indonesia dan bagaimana bangsa ini terbentuk, lalu bagaimana peran ulama NU ikut berjuang dan merumuskan konsep negara ini. 

"Untuk memahami secara tepat konsep nasionalisme dan kebangsaan NU tidak bisa dipelajari melalui kitab-kitab keagamaan klasik yang biasa kita pelajari di pesantren, tapi harus kita pelajari dari sejarah Islam Indonesia, terbentuknya bangsa, dan bagaimana peran kyai-kyai NU dan peran sertanya dalam merumuskan konsep ideologi negara", paparnya. 

Sebelum menutup sambutan, beliau berpesan kepada warga nahdliyin, khususnya kepada generasi muda NU agar tetap istikamah mengaji dan mempelajari NU agar tidak terpengaruh aneka paham yang dipasarkan melalui dunia maya. 

"Salah satu upaya membentengi akidah ahlussunnah, PCNU mengadakan kajian kitab, para muassis NU, kepda generasi muda NU saya wajibkan untuk ikut". pungkasnya.

Sementara K.H. Najahul Umam selaku penceramah, mengajak hadirin agar memaksimalkan bulan Rajab dan bulan Sya’ban dengan memperbanyak  dikir dan istighfar, serta memperbanyak puasa dan sedekah. Sebagai bulan yang mendahului bulan Ramadlan, bulan ini menjadi bulan barometer kesuksesan sesorang dalam menghadapi bulan Ramadlan. (sy)


Posting Komentar

0 Komentar