Mendidik Tanpa Kekerasan


Anak adalah dambaan setiap orang tua. Mencintai dan membanggakan seorang anak adalah fitrah. Dalam keluarga rasanya hampa tanpa kehadiran seorang anak. Namun demikian anak adalah amanah yang di dalamnya ada hak,  kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipenuhi, baik oleh anak maupun orang tua. Namun, sayang karena ambisi tertentu orang tua orang tua sering menuntut anak untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Bahkan terkadang tuntutan itu sampai melahirkan kekerasan kepada anak, baik fisik, verbal, maupun psikologis.
Kekerasan terhadap anak apaun bentuknya harus dihindari karena akan mempunyai konsekuensi yang dapat mendatangkan berbagai dampak negatif  bagi perkembangan anak secara psikologis dan secara fisik. Perkembangan emosi anak usia dini dan tahap perkembangan afektif anak usia dini pun akan sangat terpengaruh.  Dampaknya pun bisa mendatangkan trauma yang berkepanjangan sehingga anak tidak menikmati masa kecilnya walaupun telah mendapatkan pertolongan yang tepat. Trauma tersebut juga akan akan terbawa hingga dewasa, karena dampak kekerasan seperti ini biasanya akan menunjukkan dirinya dalam waktu yang lama, dan tidak segera terlihat seketika itu juga.
Berikut ini adalah beberapa dampak kekerasan pada anak yang perlu diketahui sejak dini agar tidak mengganggu psikologisnya saat beranjak dewasa:
1.     Membentuk mental sebagai korban
2.     Melakukan kekerasan
3.     Rendahnya kepercayaan diri
4.     Mengalami trauma
5.     Perasaan tidak berguna
6.     Bersikap murung
7.     Sulit mempercayai orang lain 
8.     Bersikap agresif
9.     Depresi
10.  Sulit mengendalikan emosi
11.  Sulit berkonsentrasi
12.  Luka, cacat fisik atau kematian
13.  Sulit tidur
14.  Gangguan kesehatan dan pertumbuhan 
15.  Memiliki kebiasaan buruk
16.  Kecerdasan tidak berkembang
17.  Menyakiti diri sendiri atau bunuh diri

Dalam teori perkembangan, semua potensi anak yang mencakup fisik dan motorik, emosi dan sosial, kognitif dan spiritualnya senantiasa berkembang secara bertahap yang mana antara unsur-unsurnya mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi sepanjang perjalanan usia seseorang. Untuk itu memahami tahapan-tahapan perkembangan ini sangat penting bagi orang tua bagaimana memperlakukan dan mendidik anaknya.
Untuk memasimalkan semua perkembangan tersebut maka perlu adanya lingkungan yang dapat mendukungnya terutama keluarga dan sekolah. Jhon Locke mengatakan bahwa bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih tanpa noda. Ini senada dengan hadits Nabi

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”
Untuk itu peranan dan lingkungan keluarga sebagai “madrasah” pertama anak harus dapat menjadi tempat yang aman untuk pertumbuhan anak, penuh kasih sayang dan pertahatian serta jauh dari kekerasan karena “Anak Belajar dari Kehidupannya”, Jika anak hidup dengan kecaman, mereka belajar untuk mengutuk, Jika anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan ...,  demikian kata Dorothy Law Nolte dalam sebuah puisinya.
Sebagi penutup di sini kami kutipkan  nasihat Imam Al-Ghazali bagaimana seharusnya kita sebagai orang tua memperlakukan anak sebagai amanah Allah sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut: 
أداب الوالد مع أولاده: يعينهم على بره، ولا يكلفهم من البر فوق طاقتهم، ولا يلح عليهم في وقت ضجرهم ولا يمنعهم من طاعة ربهم، ولا يمن عليهم بتربيتهم
Artinya: “Adab orang tua terhadap anak, yakni: membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.” 

Posting Komentar

0 Komentar